Bobby Nasution Angkat Bicara Penjarahan di Sibolga Tapteng Akibat Krisis Logistik Pasca Banjir
Situasi Darurat di Sibolga dan Tapteng
Belakangan ini Bobby Nasution, Gubernur Sumatera Utara (Sumut), angkat bicara terkait insiden penjarahan yang terjadi di Sibolga dan Tapanuli Tengah (Tapteng). Aksi ini muncul setelah banjir bandang dan longsor melanda wilayah tersebut. Akses jalur darat putus total. Logistik sulit masuk. Banyak warga kehabisan stok makanan dan kebutuhan dasar. Kondisi ini memicu kepanikan, sehingga sebagian warga mengambil barang dari minimarket.
Menurut laporan, penjarahan menyasar beberapa gerai ritel modern seperti minimarket dan supermarket serta gudang penyimpanan bahan pangan. Rak‑rak kebutuhan pokok habis digasak. Situasi darurat dan ketidakpastian distribusi membuat warga terpaksa bertindak nekat.
Respon Langsung dari Pemerintah
Gubernur Bobby segera mengambil langkah cepat. Ia memerintahkan penyaluran logistik dan evakuasi korban bencana. Pemerintah Provinsi Sumut telah mengirimkan paket bantuan: beras, makanan instan, air mineral, hingga obat‑obatan.
Selain itu, Bobby memimpin pembukaan jalur darurat dan koordinasi dengan TNI, Polri, serta tim penanggulangan bencana. Ia menegaskan bahwa prioritas utama adalah menyelamatkan korban dan memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi.
Karena akses darat masih terputus, distribusi bantuan kini memakai jalur udara—menggunakan pesawat dan helikopter agar logistik bisa sampai ke lokasi terisolir.
Awal Mula Penjarahan dan Dinamika di Lapangan
Menurut kronologi yang tercatat, insiden penjarahan terjadi pada Sabtu (29/11/2025). Setidaknya 16 orang diamankan oleh aparat karena terlibat dalam aksi pengambilan barang dari minimarket di Sibolga. Mereka mengambil barang kebutuhan sehari‑hari: makanan ringan, minuman, gula, sabun, hingga beras.
Kejadian ini tidak hanya terjadi di Sibolga, melainkan juga di Tapteng, terutama di area terdampak banjir dan longsor. Video viral memperlihatkan suasana massa menyerbu swalayan, mengambil stok sembako, beras, air mineral, mi instan — kebutuhan pokok bagi warga yang kehabisan suplai.
Menurut pengakuan warga dan saksi mata, mereka kehabisan makanan dan air. Saat bantuan belum datang, warga merasa terdesak. Seorang warga mengatakan, “anak-anak sudah tidak makan, air tidak ada, bantuan juga belum datang.”
Pernyataan Resmi: Apakah Ini Penjarahan?
Di tengah polemik, BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) angkat bicara. Kepala BNPB, Suharyanto, menyatakan bahwa tindakan warga bukan dilatarbelakangi niat jahat atau kriminal. Melainkan desperation akibat krisis logistik dan kelangkaan makanan. Warga mengambil bahan pangan dasar, bukan merusak atau memecahkan fasilitas minimarket.
Menurut dia, distribusi bantuan memang terhambat karena akses terputus. Tim distribusi sempat menghadapi massa yang berebut logistik. Karena khawatir tak dapat bantuan, warga mengambil tindakan sendiri. “Bukan niat jahat,” ujar Suharyanto menanggapi viralnya video penjarahan.
Namun demikian, aparat tetap melakukan penegakan hukum. Mereka menangkap sejumlah pelaku penjarahan dari gerai ritel. Itu diharapkan memberi efek jera agar situasi tidak makin tak terkendali.
Tantangan Distribusi Bantuan dan Hambatan Akses
Pascabanjir bandang dan longsor, jalur darat menuju Sibolga dan Tapteng putus total. Infrastruktur rusak berat. Banyak desa terisolir. Aliran listrik padam. Komunikasi terputus. Itu membuat distribusi logistik sangat sulit.
Karena kondisi itu, pemerintah dipaksa memakai jalur udara. Meski demikian, cuaca buruk dan jarak pandang rendah beberapa kali menggagalkan upaya penyaluran bantuan melalui udara.
Situasi makin genting ketika logistik mulai menipis. Warga terdampak bencana tidak bisa menunggu lebih lama. Tekanan kebutuhan sehari‑hari membuat mereka memilih tindakan nekat — termasuk mengambil barang dari minimarket.
Bobby Nasution Fokus Evakuasi dan Pemulihan
Gubernur Bobby menegaskan bahwa pemerintah provinsi bekerja tanpa henti untuk mengevakuasi korban dan membuka akses darurat. Ia juga memastikan bahwa bantuan logistik akan terus dikirim. Namun prioritas saat ini adalah keselamatan warga dan pemenuhan kebutuhan dasar.
Bobby berharap warga bersabar. Ia meminta masyarakat tidak terprovokasi oleh isu penjarahan. Ia juga mengingatkan pentingnya gotong‑royong di masa krisis. Pemerintah akan terus memperbaiki distribusi dan koordinasi agar bantuan bisa merata ke seluruh titik terdampak.